Gemrisik suara televisi sedikit menutup keheningan malam ini. Dalam kegaduhan yang sedikit tenang seorang lelaki duduk termenung disudut pojok kamar kosnya, sambil menghabiskan sebatang rokok ia menatap tajam pada jam dinding yang berdetik ditembok kmarnya. Tak lama kemudian ia teriak, lantang dan menggema seakan membelah malam yang sedang tertidur. Berjalan ia menuju “latar” depan rumah kosnya, sambil menatap bintang yang kadang terang kadang redup ia bertanya dalam hati “apa salahku Tuhan!”.
Terlihat jelas bahwa ia sedang berada dalam masalah. Dalam lamunan ia menghidupkan batang terakhir rokoknya, tak lama kemudian suara sepeda motor terdengar dan motor tersebut perlahan mendekat padanya, ternyata dia adalah seorang wanita cantik berkulit putih , Keyla namanya, dan ternyata ia adalah kekasih lelaki itu. Dengan wajah yang sedikit cemberut Keyla turun dari sepeda motornya langsung menangis didepan lelaki itu. Namun hanya diam dan tak sedikitpun usapan air mata dari laki laki itu, padahal Keyla terlihat sangat sedih. Akhirnya kata “sayang” dari mulut Keyla membuka percakapan diantara mereka. Selang berapa lama terdengar lantang suara “aku ki dudu wong sugeh!, ora koyo kwe sing iso ngopo wae!!” dari mulut lelaki itu. Ternyata perbedaan kasta berlaku dihubungan percintaan mereka. Keyla adalah anak salah satu pejabat daerahnya sedangkan lelaki kekasihnya hanyalah anak seorang yang pekerjaannya tak menentu, biaya Kuliahnyappun ia dapatkan dari beasiswa, tak sedikitpun orangtuanya mengelurkan biaya untuk kuliahnya hanya sekali waktu ia mendapat kiriman uang dari ayahnya dikampung itupun dengan jumlah yang kurang dari cukup. Perjalanan cinta meraka terlampau jauh hingga masalah keseriusan yang seharusnya sudah mulai mereka pikirkan kini dating menghampiri, Restu dari kedua orangtua memang telah mereka dapatkan namun hasrat orangtua Keyla yang ingin kekasihnya untuk melamarnya sebelum orangtua Keyla berangkat haji akhir tahun menjadikan beban yang berat bagi lelaki itu. Ia sadar bahwa ia masih kuliah semester 6 dan keadaan hidupnya masih pas-pasan dan ia masih punya kewajiban untuk membantu orangtuanya. Minta uangpun ia berfikir puluhan kali apalagi untuk memita agar supaya orangtuanya melamar Keyla, sunggu merupakan hal yang tidak mungin, masalah itu tumbuh dan makin buruk dengan datangnya masalah-masalah kecil yang sebelumnya bisa mereka lewati dengan dewasa namun kini semua hal menjadi masalah dan menjadikan Keyla pesimis dengan keseriusan kekasihnya namun sesungguhnya hanya Keyla lah yang ia cinta, dan Keyla lah yang bisa menjadi motivasi bagi hidupnya.
“kau telah mendapatkan semuanya dariku, apa aku tidak boleh meminta hal kecil seperti itu?aku hanya ingin kau meminta pada orangtuamu untuk segera melamarku, bandingkan dengan apa ayang telah aku korbankan padamu?”. Ucapan sedih dari Keyla.
Kemudian dengan lemas lelak itu menjawab: “Tidak segampang itu, laki-laki memiliki tanggung jawab lebih dari seorang wanita, tidak hanya itu yang aku pikirkan”. Keyla menangis, tak kuat lagi ia berkata dan menahan beban masalahnya sendiri, tanggung jawabnya terhadap orangtua dan permasalahan dengan kekasihnya yang kian menggrogoti hatinya menjadikan ia terpaksa untuk mengakhiri hubungannya dengan laki-laki itu meskipun ia harus menjalani hidup dengan keadaan yang tak lagi perawan dan ia harus siap menjawab pertanyaan dari orangtuanya soal pertunangannya. Keyla kini hidup sendiri dengan penderitaan yang tak mungkin hilang bahkan hingga tutup usia. Semenjak itu mereka tak lagi berhubungan meskipun lelaki itu selalu mengirim sms pada Keyla namun Keyla tak mau membalasnya. Kesedihan dan penyesalan Lelaki itu baru terasa setelah kepergian Keyla, ia sadar betapa berharganya Keyla dalam hidupnya. Bahkan kepergian Keyla membuat lelaki itu menjadi seorang yang lupa akan penciptanya bahkan kini ia hidup lebih buruk, seperti brandalan yang tak memikirkan masa depan. Lelaki itu merasakan pedih yang tak berujung sama seperti yang Keyla rasakan.
Meskipun mereka telah berpisah tapi mereka yakin bahwa cinta mereka akan tetap ada dan abadi hingga samudera mengering.
THE END