Jumat, 06 Juli 2012

Air Payau

hambar, bukan asin bukan pula tawar,
Bak manusia tak ber pemikiran
Seperti kehidupan yang tak berpenghidupan
Tak bertujuan meski mata tertatap tajam
Dunia kini penuh orang pintar
Namun tak ada yang yang tahu tentang kerinduan bumi 
Bahkan Archilis pun tak lagi mampu mengalahkan pasukan Troya
Sedangkan Troya Kehilangan bentengnya
Siapa yang berkuasa dan siapa yang menjadi pengikutnya?
Tak ada yang mampu memaknai keselarasan tanggung jawab

Minggu, 01 Juli 2012

Lentera Senja

Teras rumah terlihat kuning
Kala lentera senja samar terlihat
Sesosok cendekia paras lunglai berdiri di lapang 
Lentera senja ter vatamorgana dibalik sang cendekia
Terpancar lugu merayu memikat kalbu
Lentera senja mendayu membias warna sang penikmat dayu
Itu aku,,,
Mata berkecak berlari menuju bias senja kuning
Hasrat terapung membumbung menuju rautmu, raut cendekiamu
Lentera seja membawa impian
Impian bernyanyi syahdu dikala senja berlalu menjadi satu

Rabu, 29 Februari 2012

bismillah

Ada segelintir nyawa bertombak yang menghadangku berjalan
Kilauan ujungnya menyilaukan mataku
Dan kebetulan kerikil ini kembali menusuk kakiku yang tlah berdarah
Begitu terasa badai menghempaskanku dedalam ruang gelap
Tak kan kurasakan rasa takut itu
Tak kan kurasakan pula rasa sakit itu
Kilat petir kan muncul dari genggamanku
Asal kau mau menuntunku melewati gelapnya duniaku

Sabtu, 25 Februari 2012

KOSONG




Berfantasi di keheningan malam
Tak peduli meski gelap dan sunyi
Yang penting aku menari melipur laraku sendiri
Namun yang sejujurnya aku takut jika ada yang melihatku
Meskipun ribuan mata dewa sedang memandangku
Nikmatna….
Menari tarian jawa didalam keheningan
Lupa dengan segala permasalahan hidup yang tak berujung
Nikmatnya…..
Sejenak terlupa
Mungkin aku telah….
Tidak,,,,!! Yang ku lakukan benar
Lebih baik aku gila daripada orang-orang merasakan apa yang ku rasa bahkan hingga mereka berbelah kasihan
Aku tak mau meski butuh,,
Selamat tinggal hari-hariku
Aku ingin melanjutkan tarianku hingga tutup usiak

Senin, 20 Februari 2012

DIA


Dia,
Kisah terlukis perih ketika “aku” menjalani kehidupanku sendiri. Perjalanan mengasah kesabaran, berbenah diri dari yang dinamakan “kesalahan”. Waktu berlalu berganti hingga kemelut kian menyusut. Kini aku mampu menghela nafas lebih panjang, tak lagi berhenti ditengah detupan jantung. Aku lebih bisa memaknai hariku, menikmati indahnya dunia yang lama tak ku syukuri. Disela hatiku yg kian mapan, “DIA” datang membawa harapan akan kebahagiaan, namun sungguh aku tak berharap karena memang langit tak mampu ku raih. Kini aku mengenal dia “Metri” namanya, gadis baik yang terbungkus kain hitam. Titik demi tikik kebaikan aku coba berikan padanya, karena gambaran masalalukupun mampu kurubah, dalam hati aku hanya ingin dia lebih merasakan indahnya sebuah kebaikan. Banyaknya kata “syukur” terucap dr mulutnya karena memang aku pernah merasakan hal yang demikian buruk
 Bukan lagi teman sekarang ini, ada kisah baru setelah ikrar untuk hidup bersama  terucap dari mulut kita. “Keindahan” kini dapat kurasakan ketika sebuah “watak” dapat berubah menjadi sebuah kebaikan. “DIA” belajar memahami hidup, “DIA” belajar menghargai sesama, “DIA” belajar menata hdupnya sendiri atas apa kenangannya., Dia tumbuh menjadi seorang “DIA” yang sebenarnya. Dan kini aku merasa senang karena apa yang aku berikan dapat ia maknai dalam.. Ada yg lebih indah dari yang kurasa, “restu” kini telah aku dapatkan dari “beliau”. Tanggung jawab besar kini dipundakku menjaga sebuah kepercayaan besar demi kebahagiaan besar. Yang aku butuhkan hanyalah sebuah kesetiaan dan kesabaran…

Jumat, 10 Februari 2012

Bukan hukum rimba

Sekumpulan harimau tertunduk pada musang tak bertanduk
Keliaran harimau kini hilang
Taring menjadi tumpul dan berjalan mengikuti musang tak bertanduk
Kepala-kepalanya menunduk tak berani menatap tajam kedepan seperti yang musang lakukan

Tak lagi mereka terdidik memakan daging oleh musang
Bukan hukum rimba yang menjadi raja
Namun polah rendah lah yang berkuasa
Rusa kecil hidup sederhana penuh kesabaran

Sedang Harimau hidup dirundung emosi napsu memangsa
Bukan itu yang Tuhan inginkan
Meski kodrat harimau telah tertulis
Namun harimau tua juga  meninggalkan kodratnya

Rabu, 01 Februari 2012

TERSUDUT CINTA



Mahligai cinta yang termakan usia
Lapuk sumsum darah tak lagi merah
Jantung berdetak tanpa nadi yang terasa
Hasrat diri terbawa mati
Bergelora seakan tak punya nyali
Menunggu sangkakala penghenti
Mengharap iba dari sang kuasa
Durasi waktu ingin diperpanjang
Namun peluit telah berbunyi
Merasakan indahnya cinta dikala mati
Terasa hanya diruang sempit tak berisi
Teriak terbekam hanya gema diruangku sendiri
Tak ada adegan cinta dipertontonkan karena panggung sandiwara telah tertutup kain kafan.