Cik
cik gemricik tetesan gerimis membasahi dedaunan yang masih tertidur kala itu,
udara berhembus sumilir ngengalir lembut hingga terasa sampai ke paru paru,
Kabut pekat dipelataran rumah menutupi tanah gembul desa itu, Berdirilah sebuah
rumah sederhana beratapkan genting lengkung dan ber cat putih kusut bercampur
debu, Jendela dua pintu terbuka sebelah ketika itu, sekadar sejukna udara masuk kedalam rumah dan
menyegarkan ruangan yang semalam pengap dan berdebu, Lantai mengkilat bersih,
namun bukan keramik menambah betapa terjaganya rumah itu oleh sang pemilik.
Sindy namanya, gadis kecil sederhana 21 tahun ini hidup bahagia bersama
keluarganya, Kasih sayang mengalir nyata ketika sendau gurau terlihat diantara
mereka, kakak yang sayang terhadap adiknya, wajah orang tuanya yang memancarkan
tanggung jawab seakan menggambarkan betapa besar cita2 orang tuannya kepada
Sindy, Sindy…..Gadis kecil dengan jiwa yang besar, meskipun ia terlahir dari
keluarga sederhana, namun tidak untuk kesederhanaan pola pikirnya, angan angannya
untuk menjadi maju ia tunjukan pada keluarganya, sehingga iapun melanjutkan
sekolah hingga perguruan tinggi, AKBID lah yang ia tuju, perjalanan panjang ia
lalui setelah memutuskan untuk hijrah ke perantauan menuntut ilmu untuk masa
depan, laku demi laku ia mainkan, dan karakter dalam peranpun telah ia temukan
seiring terjalnya dunia yang ia lalui sendiri di kota perantauan. Sifatnya yang
sederhana menjadikan ia gadis yang dewasa, lebih dari kedewasaan gadis seumur
dia. Ia percaya bahwa Tuhan selalu disisihnya, karena itulah dia terlahir
sebagai orang yang patuh terhadap agama. Waktu berlalu berganti hingga pola
pikirpun harus mulai dibenahi, suatu ketika pergilah Sindy bersama temannya
Annel ke kos kosan teman Annel, Sindy pun dikenalkan pada seorang lelaki badung
teman Annel,joni namanya. Percakapan
terlontar satu demi satu, sindy mungkin merasakan risih karena “sowan” ketempat yang begitu kotor,dan
tak terawat, maklum Joni bukanlah lelaki yang rajin dan mampu hidup baik
layaknya lelaki lain seusiannya. akhirnya diapun mengenal lebih lanjut sosok
joni, hingga hal yang sangat rahasiapun sindy ketahui melalui sms Joni, Joni
adalah sosok yang tertutup dengan segala permasalahannya, ketidak wajaran hidup
joni seakan menjadikan ia terasing di lingkungannya. Masa lalu yang menjadikan
ia trauma dan hidup “ngawur”. Kata
demi kata kembali terlontar lewat pesan singkat yang mereka kirim, selang
beberapa waktu ketika kegalauan datang menyerang Joni sindy tiba tiba datang
menghantarkan semangat lewat pesan indah berisikan motivasi untuk joni. Namun
meskipun Joni merasa bahagia karna ia merasa tak sendiri seperti hari-hari
terdahulu, namun ia belum menganggapnya hal yang luar biasa, sesekali Joni
memang bercerita tentang masalahnya, namun seakan semua telah ia ceritakan pada
Sindy, karena memang Sindy bisa memahami apa yang belum menjadi pemikiran Joni
meskipun umurnya lebih muda daripada Joni.
Kebiasaannya
menulis, Sindy kirimkan pada Joni, tekadang puisi, terkadang pula cerita pendek
berisikan “gugahan” supaya Joni bisa
kembali seperti Joni yang dl baik. Desiran angin malam itu mengantarkan Joni
kedalam sebuah lamunan panjang , dalam hening ia berfikir tentang Sindy, begitu
banyak yang telah ia berikan pada seorang ”Joni”
padahal Joni tak pernah memberikan apapun selain celotehan sms yang ia kirim,
sungguh ini adalah fatamorgana yang mampu terengkuh, joni merasakan hidupnya
sedikit berarti setelah Sindy datang dalam kehidupannya. Ia pun sedikit tak
percaya gadis selugu itu memiliki kepedulian yang sangat terhadap orang yang
bernama Joni, hanya satu yang Joni pikirkan, tak ada hal yang lebih indah dalam
hidupnya kecuali memiliki teman berbagi, yaitu Sindy selamanya