Rabu, 25 Mei 2011

PENGANDAIAN

Andaikan aku diberi kesempatan,, aku yakin
Meski keraguan ini terasa mencekik,,,
Ya ALLOH aku hanya hambaMU yang tak luput dari dosa,,,,,,
 Hati tertutup lumpur hitam dan mengerak
Andai aku diberi kesempatan fatamorgana kan terlihat nyata,,,
Mimpiku mimpi mereka tak hanya bayangan cita
Andai aku diberi kesempatan apapun akan aku kulakukan,,
Tak peduli kepala kujadikan kaki dan tertindih kaki  
Andai aku diberi kesempatan akupun bertanya,,,
,”Apakah engkau hanya ingin ,memaksaku mengakui semua lumpur dosaku..?”
Wahai dzat yang Maha Arif,
Andai aku diberi kesempatan bimbinglah tapakan kaki hambamu ini
Andai kesempatan itu datang, sungguh hidungku mempu merasakan segarnya oksigen, mataku melihat indahnya proses kembang yang mekar, hatiku mampu merasakan tenangnya suasana surga
Sungguh andai aku diberi kesempatan
Sungguh semua hanya pengandaian

Selasa, 24 Mei 2011

Layaknya semut dalam derasnya sungai…….
Aku bisa apa?
Yang ku mampu hanya menghabiskan sisa-sisa nafasku,,,
Aku ingin rasa ini berakhir namun ku tak bisa,,,,
Karna raga ini adalah satu,,,satu bersamanya,,,,
Semutpun berhak bersenandung rindu akan kehidupan yang damai,,indah,,,,akupun menginginkannya,,,,,,,,,,,,,
Tak hanya mereka para manusia,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
AKU pun berhak…….!!!!!!!
Berikan aku sedikit kebahagiaan Wahai Engkau yang mendengar tangisan keringku,,,,,,,,
Aku  hanya seekor semut,,,,,,,tapi aku juga memiliki jantung yang masih berdetak dan hati yang masih mampu merasakan,,,meskipun sakit,,,,,,

Senin, 23 Mei 2011

Bocah Gelas Plastik

Apa yang anda pikirkan ketika melihat bocah yang menenteng bekas wadah miuman kemasan yang dijadikan tempat untuk menampung receh pada zaman yang lebih dari moderen ini?
Dengan keberadan teknologi yang sudah melampaui batas kecukupan dikonsumsi oleh manusia dan ketersediaan fasilitas pendidikan yang kini mampu menyaingi kualitas pendidikan diluar negeri, ternyata masih ada manusia yang harus merelakan masa indahnya menuntut ilmu demi memenuhi kebutuhan hidup sehari hari,,,
            Bocah kurang lebih berusia belasan tahun yang saya perkirakan mereka seumuran anak SD “nglekar” di pinggiran traficlight sambil menahan panasnya sengatan matahari menimbulkan beberapa pertanyaan tentang pendidikan khususnya di Indonesia. Ketersediaan Bantuan Operasional Sekolah seharusnya dapat merubah keadaan ini, mereka tidak perlu membutuhkan biaya untuk SPP atau yang lain karena memang dana tersebut diperuntukan bagi siswa yang kurang mampu khususnya dalam pembelajaran wajib belajar 9 tahun. Tak hanya itu bantuan-bantuan yang lain juga tak jarang ditemukan di beberapa satuan pendidikan yang memang memiliki modal lebih.  
            Namun ada beberapa factor lain yang menyebabkan mereka lebih memilih untuk mencari nafkah dibandingkan harus menuntut ilmu disekolah yang diantaranya adalah masalah “kewajiban” kemiskinan menjadi masalah utama di Negara berkembang, begitu juga di Indonesia. Latar belakang itulah yang menyebabkan mereka para bocah harus merelakan indahnya masa bermain anak demi sesuap nasi, bagi dirinya juga keluarganya, itulah yang disebut dengan “tanggung jawab” banyak hal lain sebenarnya yang melatar belakangi mereka menjadi seorang “murah tangan”, namun yang perlu dipikirkan adalah bagaimana agar supaya kesemua latar belakang tersebut tidak menjadi alasan para bocah untuk tidak sekolah. Usaha pemerintah dalam mengatasi kemiskinan harus lebih ditingkatkan dalam hal ini sebagai wujud penyelamatan generasi penerus bangsa, selain itu juga perlu adanya pemahaman yang ditumbuhkan pada setiap orang tua untuk lebih mementingkan pendidikan anaknya, karena dengan pndidikan yang cukup saya yakin mereka bisa mendapatkan lebih dari sekadar menunggu belah kasian orang di jalan,,
            Sebagai warga yang lebih terpelajar mari kita renungkan bersama keadaan yang memilukan ini sebagai wujud keprihatinan kita terhadap mereka generasi penerus bangsa.

BERDERA

Aku terjebak dalam lingkaran kepedihan
 Bergelut dengan rasa sakit yang menusuk hatiku
Aku adalah manusia yang mati suri dan kini berada pada pintu siksa kubur ,,
Berteriak…
Berotak,,.
Melawah…
Dan kucambukkan cemeti panjang pada mereka para malaikat..
Aku tak mau seperti ini,,,
Kalian memang tak punya nurani,,
Tangan Tuhan bak iblis,,,,,
Mengapa tak sediktipun kalian merasa betapa sakitnya AKU,,,,,,,,,,,,,,,,,
Apakah karena kalian hanya menjalankan perintah!!!!!!
Suatu saat Engkau akan masuk dalam duniaku dan kan kukarmakan dirimu

“ANUGERAH SEBUAH NOMOR HP”




Alkisah dimulai saat niatku menuju kekota tempatku menuntut ilmu muncul. Dengan iringan doa  tulus dari bapak dan ibuku berharap kelak aku mejadi orang yang berguna, segera kucium tangan bapak dan ibuku sebagai wujud hormat dan pamit. Lambaian tangan kasar mereka yang melambangkan kerja keras sekadar untuk membiayai aku dan adiku sekolah serta sedikit mencukupi kebutuhan hidup  mengantarkan aku menuju kendaraan yang mnjemputku tepat didepan warung usaha bapakku. Sembari merasakan sakit atas kakiku yang masih dalam proses penyembuhan, kesedihan menghampiri hatiku saat seorang nenek tua duduk dibangku kanan samping tempat dudukku, dalam hati aku berkata “apakah kelak aku akan seperti ini, sebatangkara mengarungi hidup ?” beiau sendiri dengan usia lanjut yang seharusnya sungguh ia harus duduk dikursi empuk sambil menyulam dan menikmati sejuknya udara kala pagi, tapi mengapa ia masih harus bepergian dengan alasan  kebutuhan ekonomi?. Sejenak nafasku terhela, doapun mengiringi udara yang ku hembuskan, “Ya ALLOH, sungguhlah besar perjuangan nenek ini,berkatilah beliau atas perjuangannya”. Tak lama kemudian saat aku menkmati pemandangan kotaku yang kini dipenuhi gedung-gedung megah dengan label toko yang dirancang indah, kendaraan yang  kutumpangi terhenti pada sebuah rumah dipinggir jalan raya menghampiri salah satu penumpang yang sepertinya tak asing wajahnya bagiku. Dengan halus dia membuka pintu mobil dan tersenyum sebagai isyarat “kulo nuwun”. Dia pun duduk bersebelahan denganku,gadis manis dengan tai lalat didagu ini ternyata pernah ku lihat ketika aku masih duduk di bangku SMA. Waktu itu dia terbiasa turun di perempatan tempatku menunggu angkot untuk berangkat ke sekolahku, meskipun kita tidak bersekolah bersama tapi kebiasaan melihatnya setiap pagi menjadi alas an wajahnya taka sing bagiku. Dalam perjalanan aku berfikir namun aku malu untuk bertanya,, waktu demi waktu kulalui hingga akhirnya tibalah ditempat peristirahatan, tempat melemaskan otot kaki dan sopir yang ingin menghisa rokok.  Suasana bising kota temanggung menambah panas ruangan tempat aku makan, setelah menyantap makan siang, aku mencarai kesempatan untuk mendekatinya, namun dari jauh terlihat dia terlalu sibuk memegang minuman ringan dan bersenda gurau dengan penumpang lain, akhirnya ku urungkan niatku untuk mengajaknya ngobrol, tak terasa kurang lebih 30 menit sudah berlalu, kebosanan mungkin akan kembali datang menghampiriku saat aku kembali ke mobil. Suasana sunyi terasa saat mobil kembali melanjutkan perjalanan, para penumpang yang maoritas orang yang usianya jauh diatasku tertidur pulas mungkin karena mereka juga merasakan kebosanan. Pertanyaanku tentang dirinya kembali muncul ternyatata suasana sunyi mendukungku untuk menanyakan sesuatu pada dirinya. Dan akupun bertanya padanya “turun dimana mba?”padahal sebelum itu aku telah yakin bahwa dia adik kelasku. Sekadar lebih hormat saja maksudku. Dengan manis dia menjawab tempat tujuannya, berawal dari situlah aku tahu bahwa namanya adalah “Seriti”, nama yang layak bagi gadis seperti dia..Kepenatanku sedikit terobati dengan canda diantara kita, keadaan benar-benar terbalik saat kutemukan kenyamanan waktu itu, tak terasapun ucapan selamat datang di kota semarang dari tugu yang berdiri kokoh menyambut kedatanganku, dalam hatikupun aku berkata “sebentar lagi aku kembali bosan karna tak lama lagi Seriti akan turun ”..Terseyum sedikit menutupi kekecewaan,” akankah aku bias bertemu kembali?”.Entah mengapa aku merasakan ada hal lain yang ada dalam hatiku, kepolosaannya membuat hasratku untuk ingin kembal bertemu, namun sungguh itu hal yang tak mungkin, hal yang wajar seseorang dipertemukan dalam sebuah biro perjalanan hanya sebagai teman ngobrol, setelah itu tak ada hubungan lanjut. Akhirnya sampailah ditempat ia tinggal, salah satu perguruan tinggi terbaik di kota Semarang. senyuman terakhirnya menjadi kenangan terakhirku ternyata. Kegelisahankupun kembali melanda saat kebosanan kembali datang. Dia pun turun dari kejauhan aku melihat dia masuk ke rumah yang indah jauh dari kos-kosan tempatku tinggal. Setidaknya aku telah mengetahui nama dan beberapa hal tentang dirinya.  Syukurlah tak lama lagi aku sampai di kos-kosanku. Melihat nenek yang tertidur pulas membuatku sedikit bahagia, setidaknya dengan matanya terpejam ia tak memikirkan kepentingan duniawi yang sungguh tak seharusnya ia pikirkan. Wilayah Gunung Pati telah aku masuki bertanda sesaat lagi aku akan turun dan terlepas dari kebosanan, sambil membuka pintu mobil dalam hati aku berpamitan dan mengucapkan selamat jalan pada nenek malang yang sedang tertidur pulas.
Cerita ini berlanjut pada temanku, Dodo dan Anggit namanya. Saat aku mencurahkan isi hatiku bahwa aku baru saja bertemu dengan gadis cantik yang membuat mulut ini terkadang tersenyum dengan sendirinya. Layaknya seorang anak SMA yang jatuh cinta, mereka hanya tertawa sambil mengatakan “haha Eling Umur dit”(bahasa daerah kami), akupun terlarut dalam cerita yang kusampaikan, kemudian tersebutlah nama Seriti dari mulutku, dengan wajah tercengang Anggit dan Dodo menjawab “haaa?”. Akupun kaget dengan “haaa” yang merka ucapkan. Ternyata dia adalah teman sekelas Dodo dulu mereka satu sekolahan dan Anggitpun mengenalnya karena Seriti adikkelas nya  semasa SMA. Raut wajah merah padam terpancar dariku, dengan malu aku meminta nomor HP pada Dodo, sayang celotehnya yang mengatakan bahwa ia tak punya nomor Hp Seriti membuatku sedikit kesal. Namun ternyata dia hanya meledekku, akhirnya kudapatkan Nomor HP Seriti, harapan untuk kembali bertemu seiring datangnya “anugerah dari sebuah nomor Hp”.
            Kuberanikan diri untuk mengirim pesan singkat pada Seriti, sekadar hanya untuk memastikan benarkah ini nomor Hpnya. Diapun membalas, darisitulah perbincangan panjang aku lalui dengannya, setiap hari aku selalu mengirim pesan singkat, tak kuasa menelpon karena memang aku tak punya nyali dan aku takut kedekatanku dinilai negatif karena mungkin terlalu sering menghubunginya. Kekagumanku pada dirinya hanya dapat kucurahkan pada selembar kertas dan pena hitam, berharap lebihpun aku tak sanggup.
            Trauma atas hatiku yang pernah mengalami kegagalan membuatku sulit untuk mendekati wanita yang ku anggap sempurna. Seriti adalah gambaran sosok yang menjadi idamanku, jujur kini telah timbul perasan lain dalam hatiku, namun aku takut untuk mengatakan padanya, keadaanyapun aku belum mengetahui seperti apa, apakah dia telah memiliki kekasih atau bahkan dia telah bertunangan, sakit jika aku mengetahui itu semua. Yang bisa aku lakukan hanya memejamkan mata dan mengiklaskan keadaanku seperti ini, dengan harapan aku menemukan pasangan hidupku kelak, layaknya “seriti”.

Indonesia Bisa Terancam Karena Moral


            Berawal dari budaya yang mulai luntur akibat akulturasi yang pada saat ini pengaruhnya tidak terkontrol mengakibatkan masyarakat Indonesia lupa aka asal usulnya, baik dalam hal daerah mereka  tinggal maupun hubugannya denga penciptanya. Kebiasaan  tak layak yang datang dari budaya barat menjadi keseharian yang wajar umum dilakukan oleh masnyarakat Indonesia kini. Mulai dari remaja yang leluasa berpakaian seronok hingga pergaulan bebas dls. telah menjalar dan seakan menjadi kebutuhan pribadi mayoritas anak remaja. Bahkan yang sangat membutuhkan perhatian lebiah adalah keadaan anak dibawah umur yang saat ini telah banyak keluar dari batas kewajaran. Mengkonsumsi rokok, menghirup minyak tanah bahkan anak SD yang terkena kasus pencabulan. Kita tidak boleh menyalahkan pada indifidunya saja namun perhatian dari orang tua yang kurang ternyata menjadi salah satu factor semakin bebasnya anak dibawah umur melakukan hal yang belum layak mereka lakukan, dengan alasan kasihan para orang tua menuruti keinginan yang diminta oleh anaknya meskipun yang diinginkan justru merugikan pada anaknya tersebut. Jika kebiasaan buruk tersebut tumbuh subur mulai dari usia dini, bukan hal yang tak mungkin kedepan saat anak tersebut memasuki usia yang cukup perilakunya akan lebih memprihatinkan. Bahkan petinggi-petinggi Negara saat ini justru tidak bisa memberikan teladan yang baik. Misalnya ketika mereka sedang melakukan sidang dan terjadi kekisruhan, sedikit banyak hal itu akan memberikan pengaruh buruk pada psikologis anak yang melihatnya meskipun kini Komisi Perlindungan Anak gencar melakukan programnya untuk melindungi anak bangsa Indonesia, namun secara logis tidak mungkin setiap anak  dapat terkontrol keadaan psikologisnya karena keterbatasan media dan ruang lingkup komisi perlindungan anak.
            Hal terpenting yang perlu dilakukan adalah pemupukan ilmu agama dan control orang tua yang “baik”, disebut orang tua yang baik karena ternyata berdasarkan hasil penelitian  Komnas PA  2011 tercatat 36  kasus pembuangan  bayi, hal itu dilatarbelakangi oleh belum siapnya orang tua memiliki anak karena memang mayoritas pelaku pembuangan adalah anak usia remaja, kontrol sejak dini harus secara serius diterapkan pada anak. Dengan pondasi ilmu agama yang kuat maka seseorang akan merasa enggan ketika mereka hendak melakukan hal yang dianggapnya keliru, pendidikan yang baik dari orang tua menuntun seorang anak untuk melakukan hal yang sewajarnya dilakukan. Bayangkan jika generasai penerus bangsa kita sekarang dalam keadaan memprihatinkan dalam bidang moral dan tidak mampu diatasi apa yang terjadi kelak ketika mereka meneruskan perjuangan menggantikan pemimpin terdahulu mereka, bukan hal yang tak mungkin Negara ini akan lebih buruk karena dipimpin oleh pemimpin yang memiliki moral rendah.


Minggu, 22 Mei 2011

MAMPUKAH

bersilah aku
Bertanya pada yang mendengar
Apakah waktu dapat berputar?
Bayangan fatamorgana selalu datang
Apakah waktu itu dapat terulang?
Aku tak mampu berjalan seperti ini
Apakah waktu dapat berputar?
Sedang aku kini begitu menderita
Apakah waktu itu dapat terulang?
Tolonglah putar waktu itu kembali
Tolonglah diriku yang kini hancur tertimbun bongkahan  masalaluku sendiri,,,,
Apakah waktu itu berpihak kepadaku?
Sedangkah aku kini sebatangkara
Apakah aku hanya diperbolehkan untuk bermimpi?
Sedangkan aku tak ingin tidur
Apakah aku harus merasakan sendiri?
Tolong…
Tolonglah aku,,,
Tolong,,,

SUNARTI


Di sebuah desa kecil yang berselimutkan pepohonan dengan daunnya  yang lebat nan hijau lahirlah seorang gadis cantik jelita, ia lahir dari seorang ibu muda sederhana yang bersuamikan seorang laki-laki tak tampan tak juga kaya bernama Basir. Keseharian Basir yang hanya menggarap sawah peninggalan almarhum ayahnya yang kini hanya tinggal beberapa petak saja, membuat mereka tak mampu berbuat banyak dengan kemewahan hidup. kesederhanaan terpancar dari gaya hidup mereka yang tak pernah merasakan nikmatnya makan di rumah makan atau tempat-tempat lain yang biasa dikunjungi orang sekitar rumahnya yang hidup bergelimpangkan harta.
            Kesederhanaan itu tak mengurangi kebahagiaan dan kasih sayang antara mereka, hal itu terlihat pada setiap keseharian mereka yang begitu harmonis, senyum keluarga tak pernah lepas dari bibir manis mereka begitu juga bayi kecil merekapun seakan

ikut memancarkan kebahagiaan dari wajahnyanya yang lucu.
            Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Basir meninggalkan istri dan anaknya untuk selamanya, ia meninggal saat hendak pergi menuju ke luar kota untuk mengantarkan gabah hasil garapan sawahnya dan kabar mengecewakan itupun hingga ke telinga Sarti istri Basir, kesedihan itu sungguh menjadikan Sarti tak kuasa menahan air mata, kepergian Basir menyisakan tanggung jawab yang begitu besar dan menyedihkan atas anak yang ditinggalkannya.
            Sarti kini harus merawat anaknya sendiri tanpa kasih sayang dan nafkah dari seorang bapak. Kesederhanaan yang dahulu merupakan kebahagiaan berubah menjadi sebuah kesengsaraan, tanggung jawab Sarti kini tak hanya merawat anaknya namun kini ia juga harus mencari rizki untuk menghidupi anaknya juga dirinya sendiri.
            Kepergian Basir tlah lama sudah namun kesedihannya tak kunjung usai di hati Sarti dan anaknya yang kini tlah mengetahui bahwa ayahnya telah tiada.
Hari demi hari

Sarti lalui dengan penuh semangat memberikan nafkah untuk anaknya. Pagi hari saat sang penguasa cahaya menampakkan wajahnya, Sarti harus menjajakan gorengan ke tetangga-tetangganya, keringat bercucur darah tak masalah bagi Sarti asalkan ia mendapatkan sedikit penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
            Tak seperti anak-anak usia delapan tahun pada umumnya Yuli anak Sarti tak mampu bersekolah karena tak ada biaya untuknya. namun Yuli adalah anak yang tau akan kondisi ibunya, ia menerima meski berat keadaan kluarganya. Hanya buku-buku bekas pemberian tetangganya yang ia gunakan untuk belajar, sedih memang namun harus Yuli jalani dengan iklhas. Gadis cantik asri ini selalu membantu ibunya menyiapkan gorengan yang nantinya akan dijual, tak hanya itu ia pun menggantikan pekerjaan ibunya dirumah, anggapan Yuli untuk sedikit membahagiakan ibunya.
            Waktu terus berjalan hingga tanpa Yuli sadari bahwa ia kini telah tumbuh dewasa dan menjadi anak yang santun dan berbakti pada ibunya. Namun perjalanan hidup mereka tak juga membaik, pengorbanan ibunya kini tak berubah sedikitpun, malahan sang ibu kini mulai sakit-sakitan akibat terlalu besar beban yang dipikulnya sendiri. Tanpa pilihan lain Yuli harus menggantikan ibunya menjual gorengan ke tempat-tempat langganan ibunya, tak kuasa sudah ibu kini menapakkan kakinya ke tanah. Air mata ibu menyucur disetiap harinya saat melihan Yuli bekerja menggantikannya, seakan ia tak mampu memberikan anaknya kebahagiaan.
            Telah terbiasa kini Yuli dengan kebiasaan menjual gorengannnya hingga beban yang dahulu ia rasakan saat pertama mengalaminya kini berubah menjadi sebuah wujud pengabdiannya pada sang ibu. Namun pengabdiannya tak mampu ia lanjutkan setelah ia sedang berjualan dan mendengar kabar dari orang bahwa ibunya meninggal dunia. Jajanan yang ia gendong menjadi saksi bisu kesedihan mendalam Yuli, seakan tak percaya ia pun tercengang dengan air mata yang mulai menetes dari seorang Yuli yang tak pernah menangis.
            Dengan perasaan tak percaya berlari kencang ia menuju rumahnya dan akhirnya kereta jawa yang terbaring membujur dirumahnya menjawab semua ketidak percayaannya. Air mata yang tadinya tertahan kini benar-benar mengalir deras bhkan tubuhnya lemas hingga ia pun pinggsan disamping kereta yang akan mengantarkan ibunya menuju rumah yang sebenarnya. Didit Aditya