Dia,
Kisah terlukis perih ketika “aku”
menjalani kehidupanku sendiri. Perjalanan mengasah kesabaran, berbenah diri
dari yang dinamakan “kesalahan”. Waktu berlalu berganti hingga kemelut kian
menyusut. Kini aku mampu menghela nafas lebih panjang, tak lagi berhenti
ditengah detupan jantung. Aku lebih bisa memaknai hariku, menikmati indahnya
dunia yang lama tak ku syukuri. Disela hatiku yg kian mapan, “DIA” datang
membawa harapan akan kebahagiaan, namun sungguh aku tak berharap karena memang
langit tak mampu ku raih. Kini aku mengenal dia “Metri” namanya, gadis baik
yang terbungkus kain hitam. Titik demi tikik kebaikan aku coba berikan padanya,
karena gambaran masalalukupun mampu kurubah, dalam hati aku hanya ingin dia
lebih merasakan indahnya sebuah kebaikan. Banyaknya kata “syukur” terucap dr
mulutnya karena memang aku pernah merasakan hal yang demikian buruk
Bukan lagi teman sekarang ini, ada kisah baru
setelah ikrar untuk hidup bersama
terucap dari mulut kita. “Keindahan” kini dapat kurasakan ketika sebuah “watak” dapat berubah menjadi sebuah
kebaikan. “DIA” belajar memahami hidup, “DIA” belajar menghargai sesama, “DIA”
belajar menata hdupnya sendiri atas apa kenangannya., Dia tumbuh menjadi
seorang “DIA” yang sebenarnya. Dan kini
aku merasa senang karena apa yang aku berikan dapat ia maknai dalam.. Ada yg
lebih indah dari yang kurasa, “restu” kini telah aku dapatkan dari “beliau”.
Tanggung jawab besar kini dipundakku menjaga sebuah kepercayaan besar demi
kebahagiaan besar. Yang aku butuhkan hanyalah sebuah kesetiaan dan kesabaran…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar