Alkisah dimulai saat niatku menuju kekota tempatku menuntut ilmu muncul. Dengan iringan doa tulus dari bapak dan ibuku berharap kelak aku mejadi orang yang berguna, segera kucium tangan bapak dan ibuku sebagai wujud hormat dan pamit. Lambaian tangan kasar mereka yang melambangkan kerja keras sekadar untuk membiayai aku dan adiku sekolah serta sedikit mencukupi kebutuhan hidup mengantarkan aku menuju kendaraan yang mnjemputku tepat didepan warung usaha bapakku. Sembari merasakan sakit atas kakiku yang masih dalam proses penyembuhan, kesedihan menghampiri hatiku saat seorang nenek tua duduk dibangku kanan samping tempat dudukku, dalam hati aku berkata “apakah kelak aku akan seperti ini, sebatangkara mengarungi hidup ?” beiau sendiri dengan usia lanjut yang seharusnya sungguh ia harus duduk dikursi empuk sambil menyulam dan menikmati sejuknya udara kala pagi, tapi mengapa ia masih harus bepergian dengan alasan kebutuhan ekonomi?. Sejenak nafasku terhela, doapun mengiringi udara yang ku hembuskan, “Ya ALLOH, sungguhlah besar perjuangan nenek ini,berkatilah beliau atas perjuangannya”. Tak lama kemudian saat aku menkmati pemandangan kotaku yang kini dipenuhi gedung-gedung megah dengan label toko yang dirancang indah, kendaraan yang kutumpangi terhenti pada sebuah rumah dipinggir jalan raya menghampiri salah satu penumpang yang sepertinya tak asing wajahnya bagiku. Dengan halus dia membuka pintu mobil dan tersenyum sebagai isyarat “kulo nuwun”. Dia pun duduk bersebelahan denganku,gadis manis dengan tai lalat didagu ini ternyata pernah ku lihat ketika aku masih duduk di bangku SMA. Waktu itu dia terbiasa turun di perempatan tempatku menunggu angkot untuk berangkat ke sekolahku, meskipun kita tidak bersekolah bersama tapi kebiasaan melihatnya setiap pagi menjadi alas an wajahnya taka sing bagiku. Dalam perjalanan aku berfikir namun aku malu untuk bertanya,, waktu demi waktu kulalui hingga akhirnya tibalah ditempat peristirahatan, tempat melemaskan otot kaki dan sopir yang ingin menghisa rokok. Suasana bising kota temanggung menambah panas ruangan tempat aku makan, setelah menyantap makan siang, aku mencarai kesempatan untuk mendekatinya, namun dari jauh terlihat dia terlalu sibuk memegang minuman ringan dan bersenda gurau dengan penumpang lain, akhirnya ku urungkan niatku untuk mengajaknya ngobrol, tak terasa kurang lebih 30 menit sudah berlalu, kebosanan mungkin akan kembali datang menghampiriku saat aku kembali ke mobil. Suasana sunyi terasa saat mobil kembali melanjutkan perjalanan, para penumpang yang maoritas orang yang usianya jauh diatasku tertidur pulas mungkin karena mereka juga merasakan kebosanan. Pertanyaanku tentang dirinya kembali muncul ternyatata suasana sunyi mendukungku untuk menanyakan sesuatu pada dirinya. Dan akupun bertanya padanya “turun dimana mba?”padahal sebelum itu aku telah yakin bahwa dia adik kelasku. Sekadar lebih hormat saja maksudku. Dengan manis dia menjawab tempat tujuannya, berawal dari situlah aku tahu bahwa namanya adalah “Seriti”, nama yang layak bagi gadis seperti dia..Kepenatanku sedikit terobati dengan canda diantara kita, keadaan benar-benar terbalik saat kutemukan kenyamanan waktu itu, tak terasapun ucapan selamat datang di kota semarang dari tugu yang berdiri kokoh menyambut kedatanganku, dalam hatikupun aku berkata “sebentar lagi aku kembali bosan karna tak lama lagi Seriti akan turun ”..Terseyum sedikit menutupi kekecewaan,” akankah aku bias bertemu kembali?”.Entah mengapa aku merasakan ada hal lain yang ada dalam hatiku, kepolosaannya membuat hasratku untuk ingin kembal bertemu, namun sungguh itu hal yang tak mungkin, hal yang wajar seseorang dipertemukan dalam sebuah biro perjalanan hanya sebagai teman ngobrol, setelah itu tak ada hubungan lanjut. Akhirnya sampailah ditempat ia tinggal, salah satu perguruan tinggi terbaik di kota Semarang. senyuman terakhirnya menjadi kenangan terakhirku ternyata. Kegelisahankupun kembali melanda saat kebosanan kembali datang. Dia pun turun dari kejauhan aku melihat dia masuk ke rumah yang indah jauh dari kos-kosan tempatku tinggal. Setidaknya aku telah mengetahui nama dan beberapa hal tentang dirinya. Syukurlah tak lama lagi aku sampai di kos-kosanku. Melihat nenek yang tertidur pulas membuatku sedikit bahagia, setidaknya dengan matanya terpejam ia tak memikirkan kepentingan duniawi yang sungguh tak seharusnya ia pikirkan. Wilayah Gunung Pati telah aku masuki bertanda sesaat lagi aku akan turun dan terlepas dari kebosanan, sambil membuka pintu mobil dalam hati aku berpamitan dan mengucapkan selamat jalan pada nenek malang yang sedang tertidur pulas.
Cerita ini berlanjut pada temanku, Dodo dan Anggit namanya. Saat aku mencurahkan isi hatiku bahwa aku baru saja bertemu dengan gadis cantik yang membuat mulut ini terkadang tersenyum dengan sendirinya. Layaknya seorang anak SMA yang jatuh cinta, mereka hanya tertawa sambil mengatakan “haha Eling Umur dit”(bahasa daerah kami), akupun terlarut dalam cerita yang kusampaikan, kemudian tersebutlah nama Seriti dari mulutku, dengan wajah tercengang Anggit dan Dodo menjawab “haaa?”. Akupun kaget dengan “haaa” yang merka ucapkan. Ternyata dia adalah teman sekelas Dodo dulu mereka satu sekolahan dan Anggitpun mengenalnya karena Seriti adikkelas nya semasa SMA. Raut wajah merah padam terpancar dariku, dengan malu aku meminta nomor HP pada Dodo, sayang celotehnya yang mengatakan bahwa ia tak punya nomor Hp Seriti membuatku sedikit kesal. Namun ternyata dia hanya meledekku, akhirnya kudapatkan Nomor HP Seriti, harapan untuk kembali bertemu seiring datangnya “anugerah dari sebuah nomor Hp”.
Kuberanikan diri untuk mengirim pesan singkat pada Seriti, sekadar hanya untuk memastikan benarkah ini nomor Hpnya. Diapun membalas, darisitulah perbincangan panjang aku lalui dengannya, setiap hari aku selalu mengirim pesan singkat, tak kuasa menelpon karena memang aku tak punya nyali dan aku takut kedekatanku dinilai negatif karena mungkin terlalu sering menghubunginya. Kekagumanku pada dirinya hanya dapat kucurahkan pada selembar kertas dan pena hitam, berharap lebihpun aku tak sanggup.
Trauma atas hatiku yang pernah mengalami kegagalan membuatku sulit untuk mendekati wanita yang ku anggap sempurna. Seriti adalah gambaran sosok yang menjadi idamanku, jujur kini telah timbul perasan lain dalam hatiku, namun aku takut untuk mengatakan padanya, keadaanyapun aku belum mengetahui seperti apa, apakah dia telah memiliki kekasih atau bahkan dia telah bertunangan, sakit jika aku mengetahui itu semua. Yang bisa aku lakukan hanya memejamkan mata dan mengiklaskan keadaanku seperti ini, dengan harapan aku menemukan pasangan hidupku kelak, layaknya “seriti”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar