Di sebuah desa kecil yang berselimutkan pepohonan dengan daunnya yang lebat nan hijau lahirlah seorang gadis cantik jelita, ia lahir dari seorang ibu muda sederhana yang bersuamikan seorang laki-laki tak tampan tak juga kaya bernama Basir. Keseharian Basir yang hanya menggarap sawah peninggalan almarhum ayahnya yang kini hanya tinggal beberapa petak saja, membuat mereka tak mampu berbuat banyak dengan kemewahan hidup. kesederhanaan terpancar dari gaya hidup mereka yang tak pernah merasakan nikmatnya makan di rumah makan atau tempat-tempat lain yang biasa dikunjungi orang sekitar rumahnya yang hidup bergelimpangkan harta.
Kesederhanaan itu tak mengurangi kebahagiaan dan kasih sayang antara mereka, hal itu terlihat pada setiap keseharian mereka yang begitu harmonis, senyum keluarga tak pernah lepas dari bibir manis mereka begitu juga bayi kecil merekapun seakan
ikut memancarkan kebahagiaan dari wajahnyanya yang lucu.
Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Basir meninggalkan istri dan anaknya untuk selamanya, ia meninggal saat hendak pergi menuju ke luar kota untuk mengantarkan gabah hasil garapan sawahnya dan kabar mengecewakan itupun hingga ke telinga Sarti istri Basir, kesedihan itu sungguh menjadikan Sarti tak kuasa menahan air mata, kepergian Basir menyisakan tanggung jawab yang begitu besar dan menyedihkan atas anak yang ditinggalkannya.
Sarti kini harus merawat anaknya sendiri tanpa kasih sayang dan nafkah dari seorang bapak. Kesederhanaan yang dahulu merupakan kebahagiaan berubah menjadi sebuah kesengsaraan, tanggung jawab Sarti kini tak hanya merawat anaknya namun kini ia juga harus mencari rizki untuk menghidupi anaknya juga dirinya sendiri.
Kepergian Basir tlah lama sudah namun kesedihannya tak kunjung usai di hati Sarti dan anaknya yang kini tlah mengetahui bahwa ayahnya telah tiada.
Hari demi hari
Sarti lalui dengan penuh semangat memberikan nafkah untuk anaknya. Pagi hari saat sang penguasa cahaya menampakkan wajahnya, Sarti harus menjajakan gorengan ke tetangga-tetangganya, keringat bercucur darah tak masalah bagi Sarti asalkan ia mendapatkan sedikit penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Tak seperti anak-anak usia delapan tahun pada umumnya Yuli anak Sarti tak mampu bersekolah karena tak ada biaya untuknya. namun Yuli adalah anak yang tau akan kondisi ibunya, ia menerima meski berat keadaan kluarganya. Hanya buku-buku bekas pemberian tetangganya yang ia gunakan untuk belajar, sedih memang namun harus Yuli jalani dengan iklhas. Gadis cantik asri ini selalu membantu ibunya menyiapkan gorengan yang nantinya akan dijual, tak hanya itu ia pun menggantikan pekerjaan ibunya dirumah, anggapan Yuli untuk sedikit membahagiakan ibunya.
Waktu terus berjalan hingga tanpa Yuli sadari bahwa ia kini telah tumbuh dewasa dan menjadi anak yang santun dan berbakti pada ibunya. Namun perjalanan hidup mereka tak juga membaik, pengorbanan ibunya kini tak berubah sedikitpun, malahan sang ibu kini mulai sakit-sakitan akibat terlalu besar beban yang dipikulnya sendiri. Tanpa pilihan lain Yuli harus menggantikan ibunya menjual gorengan ke tempat-tempat langganan ibunya, tak kuasa sudah ibu kini menapakkan kakinya ke tanah. Air mata ibu menyucur disetiap harinya saat melihan Yuli bekerja menggantikannya, seakan ia tak mampu memberikan anaknya kebahagiaan.
Telah terbiasa kini Yuli dengan kebiasaan menjual gorengannnya hingga beban yang dahulu ia rasakan saat pertama mengalaminya kini berubah menjadi sebuah wujud pengabdiannya pada sang ibu. Namun pengabdiannya tak mampu ia lanjutkan setelah ia sedang berjualan dan mendengar kabar dari orang bahwa ibunya meninggal dunia. Jajanan yang ia gendong menjadi saksi bisu kesedihan mendalam Yuli, seakan tak percaya ia pun tercengang dengan air mata yang mulai menetes dari seorang Yuli yang tak pernah menangis.
Dengan perasaan tak percaya berlari kencang ia menuju rumahnya dan akhirnya kereta jawa yang terbaring membujur dirumahnya menjawab semua ketidak percayaannya. Air mata yang tadinya tertahan kini benar-benar mengalir deras bhkan tubuhnya lemas hingga ia pun pinggsan disamping kereta yang akan mengantarkan ibunya menuju rumah yang sebenarnya. Didit Aditya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar