Berawal dari budaya yang mulai luntur akibat akulturasi yang pada saat ini pengaruhnya tidak terkontrol mengakibatkan masyarakat Indonesia lupa aka asal usulnya, baik dalam hal daerah mereka tinggal maupun hubugannya denga penciptanya. Kebiasaan tak layak yang datang dari budaya barat menjadi keseharian yang wajar umum dilakukan oleh masnyarakat Indonesia kini. Mulai dari remaja yang leluasa berpakaian seronok hingga pergaulan bebas dls. telah menjalar dan seakan menjadi kebutuhan pribadi mayoritas anak remaja. Bahkan yang sangat membutuhkan perhatian lebiah adalah keadaan anak dibawah umur yang saat ini telah banyak keluar dari batas kewajaran. Mengkonsumsi rokok, menghirup minyak tanah bahkan anak SD yang terkena kasus pencabulan. Kita tidak boleh menyalahkan pada indifidunya saja namun perhatian dari orang tua yang kurang ternyata menjadi salah satu factor semakin bebasnya anak dibawah umur melakukan hal yang belum layak mereka lakukan, dengan alasan kasihan para orang tua menuruti keinginan yang diminta oleh anaknya meskipun yang diinginkan justru merugikan pada anaknya tersebut. Jika kebiasaan buruk tersebut tumbuh subur mulai dari usia dini, bukan hal yang tak mungkin kedepan saat anak tersebut memasuki usia yang cukup perilakunya akan lebih memprihatinkan. Bahkan petinggi-petinggi Negara saat ini justru tidak bisa memberikan teladan yang baik. Misalnya ketika mereka sedang melakukan sidang dan terjadi kekisruhan, sedikit banyak hal itu akan memberikan pengaruh buruk pada psikologis anak yang melihatnya meskipun kini Komisi Perlindungan Anak gencar melakukan programnya untuk melindungi anak bangsa Indonesia, namun secara logis tidak mungkin setiap anak dapat terkontrol keadaan psikologisnya karena keterbatasan media dan ruang lingkup komisi perlindungan anak.
Hal terpenting yang perlu dilakukan adalah pemupukan ilmu agama dan control orang tua yang “baik”, disebut orang tua yang baik karena ternyata berdasarkan hasil penelitian Komnas PA 2011 tercatat 36 kasus pembuangan bayi, hal itu dilatarbelakangi oleh belum siapnya orang tua memiliki anak karena memang mayoritas pelaku pembuangan adalah anak usia remaja, kontrol sejak dini harus secara serius diterapkan pada anak. Dengan pondasi ilmu agama yang kuat maka seseorang akan merasa enggan ketika mereka hendak melakukan hal yang dianggapnya keliru, pendidikan yang baik dari orang tua menuntun seorang anak untuk melakukan hal yang sewajarnya dilakukan. Bayangkan jika generasai penerus bangsa kita sekarang dalam keadaan memprihatinkan dalam bidang moral dan tidak mampu diatasi apa yang terjadi kelak ketika mereka meneruskan perjuangan menggantikan pemimpin terdahulu mereka, bukan hal yang tak mungkin Negara ini akan lebih buruk karena dipimpin oleh pemimpin yang memiliki moral rendah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar